Tumbuh kembang dan kesehatan bayi

Manajemen Laktasi Bayi Kuning

Bayi baru lahir secara alami memiliki kadar bilirubin indirek yang relatif lebih tinggi dibandingkan nilai normal. hal ini terjadi akibat peningkatan produksi bilirubin. Bilirubin merupakan produk akhir pemecahan sel darah merah. Janin memiliki jenis sel darah merah yang berbeda dengan orang dewasa dan jumlahnya pun jauh lebih banyak untuk mencukupi transportasi oksigen pada janin dalam kandungan yang belum bernapas mandiri. Sel darah merah ini tidak diperlukan lagi setelah bayi lahir, sehingga dipecah oleh tubuh bayi dan dikeluarkan dari tubuh.

Terdapat dua jenis kuning (ikterus) pada bayi dengan ASI eksklusif; keduanya harus dapat dibedakan karena penyebab dan tatalaksana yang jauh berbeda untuk keduanya.

1. Breastmilk jaundice.
Breastmilk jaundice adalah kuning pada bayi ASI yang berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi biasanya. Pada bayi dengan susu formula kuning akan menghilang dalam 1 minggu dan serum bilirubin mencapai kadar normal pada hari ke-10-14.
Sedangkan sekitar 60% bayi ASI mengalami kuning yang dapat bertahan berminggu-minggu,dan secara kasat mata kulit bayi terlihat kuning selama sekitar 3-6 minggu. Kondisi ini merupakan fenomena normal dan bukan merupakan penyakit. Breastmilk jaundice disebabkan adanya substansi tertentu di dalam ASI yang meningkatkan penyerapan bilirubin di usus,terutama pada ASI transisi yaitu ASI yang keluar di hari ke 5 dan selanjutnya.

Kriteria Breastmilk Jaundice pada bayi adalah:

1. Kuning muncul setelah hari kelima.
2. Kadar bilirubin indirek <10 mg/dl
3. Bayi dalam kondisi sehat.
4. Tanda-tanda kecukupan ASI pada neonatus yaitu BAB setiap hari, BAK lebih dari 5-6x/hari,dan kenaikan berat badan 150-200 gram per minggu terpenuhi.

Penanganan: Biasanya tidak diperlukan penanganan khusus dan bayi dapat disusui seperti biasa. Menyusui bayi sesering mungkin dapat mempercepat penurunan bilirubin karena sifat ASI terutama kolostrum yang pencahar ringan dan melancarkan pembuangan bilirubin melalui feses bayi. Pada kondisi kadar bilirubin tinggi, dapat dilakukan penghentian menyusui selama 24-48 jam,dan kemudian dilanjutkan lagi seperti biasa. Pada masa interupsi ini diberikan susu formula sebagai asupan pengganti untuk bayi. Penghentian sementara ini akan menurunkan kadar bilirubin indirek dan walaupun setelah bayi kembali menyusu kadar bilirubin dapat naik kembali tetapi biasanya tidak setinggi sebelumnya.

2. Starvation jaundice of the newborn. Kondisi ini merupakan kuning pada bayi ASI yang terjadi akibat kurangnya asupan ASI sehingga pembuangan bilirubin melalui feses terhambat.
Kurangnya asupan ASI ini dapat terjadi akibat faktor ibu yaitu tidak tepatnya posisi dan pelekatan menyusui sehingga ASI tidak terhisap dengan optimal oleh bayi,maupun faktor anak yaitu prematuritas atau bayi yang cenderung mengantuk.

Secara klinis kriteria diagnosis starvation jaundice of the newborn adalah:
1. Terjadi pada hari-hari awal setelah 24 jam pertama.
2. Terdapat penurunan berat badan 7-10% dibandingkan berat lahir.
3. Kondisi bayi dehidrasi,dapat disertai hipernatremia, kadar bilirubin yang tinggi,maupun kern ikterus.

Penanganan starvation jaundice of the newborn:
1. Perbaiki masalah menyusui yaitu dengan memastikan posisi dan pelekatan bayi yang benar pada payudara ibu.
2. Cukupi asupan cairan dan kalori pada bayi baik dengan pemberian ASI perah, ASI donor, maupun suplementasi susu formula.

Pada kedua kondisi ikterus ini,dapat dilakukan fototerapi jika kadar bilirubin mencapai indikasi fototerapi sesuai grafik panduan fototerapi AAP. Selama fototerapi proses menyusui dilanjutkan seperti biasa.

Pencegahan kuning pada bayi ASI:
1. Inisiasi Menyusu Dini (IMD), baik pada bayi lahir spontan maupun melalui operasi Caesar. IMD adalah upaya melancarkan proses menyusu dengan meletakkan bayi di dada ibu segera setelah lahir,selama minimal 1 jam.
2. Dukung pemberian ASI eksklusif dan optimalkan manajemen laktasi dengan memastikan posisi dan pelekatan menyusui yang baik.
3. Edukasi tanda lapar dini kepada ibu agar ibu dapat segera merespon sebelum bayi menangis. Tanda lapar dini ini mencakup bibir berkecap-kecap,memasukkan tangan ke dalam mulut,gelisah dan bersuara. Tangisan merupakan tanda lapar yang terakhir dan seringkali menyulitkan ibu meletakkan bayi dengan baik di payudara karena bayi cenderung meronta-ronta.
4. Identifikasi faktor risiko pada ibu dan bayi.
Faktor risiko pada ibu: diabetes, sensitasi Rh. Faktor risiko pada bayi: memar akibat persalinan, prematuritas, penyakit ABO,bayi mengantuk,pemisahan ibu dan bayi (tidak rawat gabung).

Referensi:
– Riordan J,Wambach K. Breastfeeding and Human Lactation, 4th edition.2010.Jones and Bartlett Publishers.
– ABM Clinical Protocol #22: Guidelines for Management of Jaundice in the Breastfeeding Infant Equal to or Greater Than 35 Weeks Gestation. Breastfeeding Medicine Volume 5,Number 2,2010.

FOTOTERAPI

About Stella Tinia,dr.,M.Kes,IBCLC

An IBCLC lactation consultant with high passion to educate and help mothers and babies enjoy the wonderful experience and millions benefits of breastfeeding.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: