Tumbuh kembang dan kesehatan bayi

Kolik pada bayi ASI

Pada saat kolik,bayi menangis keras dan sulit ditenangkan,dan bukan disebabkan oleh rasa lapar atau penyakit tertentu. Sulit membuat definisi pasti untuk kolik,dan tidak ada terapi atau obat khusus untuk mengatasi kolik pd bayi.

Pada bayi ASI,ada 3 kondisi yang dapat berhubungan dengan kolik dan rewel pada bayi,dengan asumsi berat badan bayi bertambah dengan baik,dan bayi dalam kondisi sehat. Jika bayi Anda sering mengalami kolik, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter anak Anda, untuk memastikan kolik tidak disebabkan oleh kondisi medis tertentu dan bayi dalam keadaan sehat.

1. Membatasi waktu penyusuan pada payudara.
ASI yang keluar pada saat awal penyusuan disebut ASI awal (foremilk),dan ASI yang keluar mendekati akhir disebut ASI akhir (hindmilk). ASI akhir memiliki kandungan lemak yang lebih tinggi,berguna sebagai sumber lemak tubuh bagi bayi,dan menunda pengosongan lambung bayi. Seorang ibu yang membatasi waktu bayi menyusu di satu payudara (misal 5 menit kanan,5 menit kiri),akan menyebabkan bayi mendapat lebih sedikit ASI akhir. Akibatnya bayi mendapatkan lebih sedikit kalori,dan lebih cepat lapar. Pengosongan lambung pun terjadi lebih cepat,mengakibatkan ASI yang tinggi laktosa tiba di usus secara bersamaan,sehingga menyulitkan pencernaan,dan pada bayi timbul gejala mirip intoleransi laktosa (menangis,banyak gas,BAB menyemprot,cair,berwarna kehijauan).Bayi ini sebenarnya tidak mengalami intoleransi laktosa,karenanya tidak perlu memberikan susu formula bebas laktosa kepadanya. Tindakan yang dapat Ibu lakukan:
– Jangan membatasi waktu penyusuan,biarkan bayi menyusu puas pada 1payudara sampai melepas sendiri,baru tawarkan payudara sebelahnya.Jika bayi tampak mengantuk saat menyusu atau lebih banyak mengempeng,ibu dapat mencoba melakukan kompresi payudara.Kompresi payudara akan meningkatkan aliran ASI,sehingga bayi kembali menghisap dengan efektif.
-Seimbangkan menyusui pada kedua payudara. Payudara yang disusukan belakangan,biasanya tidak sampai sepenuhnya “habis” diminum bayi.Karenanya mulailah dari payudara ini pada saat penyusuan selanjutnya.
-Pastikan perlekatan mulut bayi ke payudara sudah tepat,inilah kunci kesuksesan menyusui.
-Pada beberapa kasus,mungkin diperlukan menyusui dua kali atau lebih pada satu payudara sebelum berpindah ke payudara sebelahnya.

2. LDR (Let Down Reflex) overaktif.
Let Down Reflex merupakan reflex pengaliran ASI,dipicu oleh hormon oksitosin,dan menyebabkan ASI mengalir dari kelenjar ASI,sampai di mulut bayi. LDR yang terlalu aktif menyebabkan aliran ASI terlalu deras dan cepat,sehingga bayi menjadi rewel dan “colicky”; terbatuk-batuk atau tersedak saat menyusui,dan meronta-ronta. Pada beberapa bayi,bahkan dapat menyebabkan bayi menolak menyusu setelah beberapa minggu,rata-rata sekitar usia 3bulan.
Tindakan yang dapat Ibu lakukan:
-Cobalah menyusui bayi dengan 1 payudara tiap kali menyusu. Pada beberapa kasus,bahkan 2-3x menyusu pada 1payudara sebelum berganti ke payudara sebelahnya.Jika payudara sebelahnya kemudian mengalami penuh/bengkak,perahlah ASInya,cukup sampai ibu merasa nyaman.
-Susui bayi sebelum bayi sangat lapar. Bayi yang sangat lapar akan “menyerbu” payudara dan menyebabkan LDR sangat aktif. Susui bayi saat mulai menunjukkan tanda lapar,atau sedang setengah tertidur.
-Susui bayi dengan suasana yang tenang dan santai.
-Menyusui dengan posisi berbaring, baik berbaring miring maupun reclining position (posisi ibu setengah duduk,bayi dibaringkan di atasnya,seperti posisi IMD). Gravitasi akan membantu menurunkan kecepatan aliran ASI.
-Jika perlu,Ibu dapat pula memerah sedikit ASI (sekitar 30 cc) sebelum menyusui,tapi hal ini bukan merupakan keharusan.
-Kadang jika aliran terlalu lambat,bayi pun menjadi rewel. Lakukan kompresi payudara untuk meningkatkan kecepatan aliran ASI
-Lagi-lagi,pastikan perlekatan sudah tepat ya..
-Pemberian enzim laktase 2-4 tetes sebelum menyusui dapat membantu meredakan gejala.
-Nipple shield mungkin membantu,tapi ini merupakan pilihan kedua terakhir.
-Sebagai pilihan terakhir,jika bayi tetap tidak mau menyusu pada ibu,berikan ASI dengan cara diperah.

3.Adanya protein asing di dalam ASI
Kadang-kadang,adanya protein tertentu dalam makanan ibu dapat menyebabkan kolik pada bayi. Penyebab tersering adalah protein susu sapi. Karenanya,pada kasus kolik pada bayi ASI, Ibu dapat disarankan untuk berhenti mengkonsumsi produk susu (baik berupa susu,maupun produk olahannya seperti es krim,keju,yoghurt,dll). Susu yang sudah berubah(terdenaturasi) proteinnya,misalnya akibat proses pemasakan,biasanya tidak menyebabkan masalah. Jika setelah berhenti konsumsi susu tetap tidak ada perbaikan,ibu dapat mencoba menggunakan kapsul enzim pankreatik, 1kapsul setiap kali makan,utk membantu memecah protein di dalam ususnya,sehingga tidak diserap oleh tubuh dan tidak muncul di dalam ASI.

Intoleransi terhadap protein susu ini berbeda dengan intoleransi laktosa. Ibu yang intoleransi laktosa tetap disarankan untuk menyusui bayinya.

Panduan diet bebas-susu:
1. Hentikan semua produk susu selama 7-10 hari.
2.Jika tidak ada perubahan,dapat mulai mengkonsumsi produk susu kembali.
3.Jika gejala pada bayi membaik dgn diet bebas-susu,dapat mulai mengkonsumsi produk susu tp dalam jumlah sedikit,jika memang produk susu termasuk bagian pola makannya sehari-hari dan sulit dihindari. Beberapa bayi hanya bisa menerima ASI yang 100% bebas produk susu,tp sebagian besar bisa menerima adanya sedikit protein susu sapi dalam ASI.
4. Jika perlu asupan kalsium tambahan,Ibu dapat mengkonsumsi suplemen kalsium,atau kalsium dari sumber lain,walaupun hal ini bukan keharusan. Penelitian menunjukkan menyusui melindungi wanita dari osteoporosis,walalupun tidak mengkonsumsi kalsium tambahan.
5. Tetap perhatikan keseimbangan asupan gizi Ibu. Terlalu banyak berpantang berbagai jenis makanan akan menyebabkan ibu akhirnya hanya makan nasi putih saja..

Sebagian besar kasus kolik pada bayi ASI akan membaik dengan berjalannya waktu,karena itu bersabarlah, jangan terlalu cepat memutuskan untuk beralih ke susu formula.

Disarikan dari: Handout #2 Colic in the breastfed baby, written by Jack Newman MD,FRCPC, 2003.

Oleh Stella Tinia Hasianna,dr.,M.Kes
@stellatinia

About Stella Tinia,dr.,M.Kes,IBCLC

An IBCLC lactation consultant with high passion to educate and help mothers and babies enjoy the wonderful experience and millions benefits of breastfeeding.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: